SENSOR SANA SENSOR SINI

April 8th, 2008 by narkobar

Computer_guy4_1

Pada suatu hari, di negeri BBM (Baru Bisa Memble), Rio Surya, seorang pakar IT kenamaan dan andalan pemerintah BBM menjelaskan ke atasannya:
"Pak Mentri, karena kini di internet udah ada sekira 600 juta situs porno, untuk menyensor itu semua kita harus menggunakan suatu algoritma canggih yang dapat mencari kata-kata teks tertentu, misalnya untuk kata ’sex’, ‘porno’, ‘XXX’, dsb. lalu memblokir alamat DNS situs tersebut sebelum masuk ke ISP  lokal kita. Tapi yah… tapi kita butuh biaya yang lumayan besar, Pak Mentri. Karena kita harus menjalin kerjasama dengan PT Indokom dan PT Telsat. Selain itu kami membutuhkan beberapa puluh server canggih berkapasitas besar… yah sekira 100 terrabytes.."

Victor, seorang Pakar IT yang bekerja untuk sebuah situs porno terkemuka, ‘nyerengeh bari gogodeg’ saat mendengar kabar dari Pak Suporno - bosnya.
"Hehehe… itu mah no problemos, Bos! Kalo gitu mulai saat ini kita jangan menggunakan kata2 jorok di situs2 porno kita. Kata ’sex’ kita ganti dengan kata ‘combro’, kata ‘kiss’ kita ganti dengan kata ‘manyun’, huruf  ‘XXX’ kita ganti dengan ‘AAA’, dst…dst… End of problem! Then it’s back to business as usual, Boss!"
Pak Suporno tersenyum senang: "Siiiip lah! Kalo berhasil, bulan depan honor loe gue naikin 30%. Keep up the good work, Piktor!"

Anissa, seorang mahasiswi tingkat akhir sebuah perguruan tinggi di Bandung, tampak kebingunan saat sedang mencari referensi di internet untuk skripsinya tentang  sejenis penyakit kelamin baru.
"Wah! Kacau! Kok semua situs2 kedokteran jadi pada ngilang, ya Mas? Jangan2 laptopku kena virus?"
Mas Nait, suami Anissa menatap serius layar monitor laptop tersebut seraya menggeleng, "Iya. Aneh. Padahal kita udah pake anti-virus bajakan terbaru kan, yank? Jangan2 semua situs itu ikutan kena sensor  pemerintah juga? Situs2 kedokteran suka ada kata2 ’sex’-nya juga, kan?"
Anissa mengangguk lesu. "Bisa jadi, Mas. Waaah, kalo gini caranya, bisa2 gagal deh skripsiku."

Beberapa hari kemudian Rio Surya ‘molotot bari reuwas’: "Beu? Kenapa masih banyak situs porno yang berkeliaran, ya? Padahal kita udah pake program anti-porno super canggih buatan Amrik, kan?"
Dia langsung sibuk ngutak atik komputer super canggihnya. Lima menit kemudian: "Ahhh… ternyata mereka  udah ga pake kata2 jorok lagi. Cilakdut, Pak Mentri. Terpaksa kita harus menyensornya secara manual, tapi… tapi  untuk itu saya butuh staf yang… yang lumayan banyak, Pak."
Pak Mentri: "Ga pha2. Nanti saya akan ajukan proposal baru ke Bapak Presiden.  Dengan alasan untuk membuka lapangan kerja baru,  saya yakin kita bisa memperoleh dana tambahannya. Saya juga akan menekankan bahwa masalah pornografi  jauh lebih penting ketimbang masalah subsidi BBM dan lain2-nya. ."

Beberapa ratus kilometer dari tempat itu, Victor kembali ‘nyerengeh’. "Hehehe… Bos, sepertinya mereka sekarang udah pake manusia buat nyensor situs2 kita."
Pak Suporno agak terperangah: " Wah? Gawat dong?"
Melihat reaksi bos-nya, Victor tersenyum lebar: "Tenang aja, Bos. Anak2 jaman sekarang udah pada pinter2 kok. Mereka sekarang udah pada tau gimana caranya make Anonymous Proxy Server di Internet. Kalo ISP lokal di kita udah diblokir, mereka so pasti akan menggunakan alamat ISP proxy server dari negara2 lain yang jumlahnya udah gak kehitung. Karena proxy2 server itu ‘anonymous’ atau ‘ga mungkin bisa dilacak IP address’-nya, pihak pemerintah tidak mungkin dapat mengetahui dari IP address mana mereka mengakses situs2 porno kita. Hehehe… semua pelanggan kita juga udah kita kasih tau caranya kok, Bos. Selain itu, setiap minggu kita selalu ngeganti alamat ISP kita dengan alamat ISP baru, kan? So, kaleeeuum aja, Bos. Hehehe.."

Tiga bulan kemudian, Rio Surya kembali menghadap sang Menteri dengan wajah sumringah:
"Pak Mentri, kita berhasil, Pak. Sejak 3 bulan yang lalu tampaknya sudah  tidak ada lagi pengguna Internet lokal yang dapat mengakses situs2 porno lokal mau pun asing."
Pak Menteri:"Bagus. Bagus. Ngomong2 mobil kamu masih yang  kemarin itu, kan? Gimana kalo besok diganti saja sama…"

Odang dan Kirdun, sepasang sahabat  dan siswa dari sebuah SMP di desa Cijedil tampak kecewa saat menyaksikan tayangan video ’syur’ yang agak ter-putus2 pada layar laptop mereka.
Odang: "Gue bilang juga apa, kalo lu pake proxy server yang di Cina elu bisa kena virus tau?! Udah, lu pake proxy server yang di Jerman aja. Katanya sih lebih aman, Dun."
Kirdun: "Bener juga, Dang. Laptop bokap gue jadi penuh ama virus neh. Cilakdut! Mangkaning besok mau dipake buat presentasi anti-Narkoba-nya si bokap di kelurahan. "

Tak jauh dari tempat itu, di alam lain, seekor jin dari ras Naruut menyampaikan laporannya di hadapan Dewan J’mar Kha’fziir Madanglaya.

"Para anggota Dewan yang saya hormati, kini satu2nya cara yang dapat dilakukan manusia untuk menghindari dampak dari program NIO atau ‘Negative Information Overload’ pada anak2 mereka adalah dengan mengajarkan anak2 mereka  agar memiliki kemampuan untuk menyensor benak mereka sendiri dari efek NIO, namun sepertinya mereka tidak mungkin dapat melakukannya karena mereka terlalu sibuk dengan urusan dan perkerjaan mereka sehari-hari.  Dengan demikian program  ‘NIO’  kita tetap dapat berjalan mulus sesuai rencana kita, bahkan besar kemungkinan dapat bertahan untuk beberapa ratus tahun lagi. Demikian laporan singkat saya. Terima kasih."

Para anggota Dewan J’mar Kha’fziir  bangkit berdiri lalu sontak bertepuk riuh menyambut  laporan tahunan Nar’Kobar dari ras Naruut.

Viva ras Naruut!

I need your opinion

June 11th, 2007 by narkobar

Hi, friendsters!

I got BIG problem! Most of the publishers that I had contacted said that I should change The Nar’Kobar Trilogy into a ‘Nar’Kobar Book Series’ (cheaper and thinner books with around 200-300 pages). Why? They said the novels are too damn thick and expensive (for local readers) and no one in their right mind would even think of reading/buying them!
The second Trilogy (Nar’Kobar - The Hero) has 650 pages and the third (Nar’Kobar - End Game) has more than that (around 700-800 pages).

Personally, I don’t agree much with their idea coz it would change the overall ‘flow’ and ‘feel’ of the trilogy (One of Harry Potter’s series has 1200 pages, but lotsa local readers still bought the damn expensive book. Hehehe…). Moreover, I know Nar’Kobar himself wouldn’t like it if I cut off his story into little bits and pieces. Hehehe..
.

Well, I’m asking YOU, as readers of Nar’Kobar, for an opinion on this matter (in any language..hehe). What d’ya think about this, friendsters? Should I convert the trilogy into a thinner and cheaper book series (maybe around 6 - 7 books)? Remember, your opinion would determine the future fate of Na’Kobar.

Salam,

Nar’Kobar’s Master

A new Novel about ME!

January 26th, 2006 by narkobar

Read all about me guys! My master is publishing his first novel with the title "Nar’Kobar - The Motivator".  It will be in every book store starting February 1 2006.
For more information, please visit my website at http://www.narkobar.net.ms/